Senar Hujan-Dialog Hujan

Wednesday, June 8, 2016

Salah Fokus

Waktu malam itu aku duduk disebuah tempat, tepat dibawah lampu-lampu yang bercahaya menerangi sepinggiran jalan panjang. Aku diam sambil merenung dan menunggu seorang yang akan datang menghapiri ku. Ku lihat jalan disekitaran ku tak kunjung datang juga seseorang yang kutunggu. Ketika itu aku melihat seorang anak membawa bungkus permen bersama adiknya. Entah adik atau bukan, hati ini luluh kepada kedua anak tersebut. Hati ini bertanya-bertanya pikiran ku kemana-kemana setelah melihat kedua anak tersebut. Ibu nya entah kemana, apakah sang ibu tidak mengkhawatirkan anaknya, atau pun malah menyuruh anaknya mencari sedikit uang untuk menghidupi  sehari-harinya mereka. Nasib memang ada di tangan yang maha kuasa, namun bagaimana jika nasib anak itu kemudian hari akan sama dengan hari ini?

Seseorang yang aku tunggu sejam yang lalu akhirnya datang, datang menghampiriku dengan wajah penuh tanya, ditangannya memegang sesuatu benda entah benda apa yang di tangannya itu. Muka ku datar melihat kearah muka nya. Sambil tersenyum kecil aku berkata tidak ada apa-apa. Dia hanya tersenyum dan menaruh benda itu ditangan ku. Lalu dia pergi pamit karena muka ku penuh tanda tanya. Dia mengira mungkin aku marah padanya? Padahal tidak sama sekali. Aku bawa benda itu hingga sampai rumah aku hanya meletakkannya di meja. Tanpa membuka atau mencari tau apa yang ada didalam nya.

Semua butuh penjelasan, bukan dengan main pergi gitu aja. semua orang butuh waktu untuk mengungkap sesuatu yang panjang, bukan dengan dilihat dari luarnya saja tapi dari dalamnya. Padahal pada saat itu aku ga bete sama sekali menunggu dia sejam, atau 2 jam, aku hanya terdiam ketika sedang melihat seorang anak kecil. Sekarang aku membuka benda itu dan ternyata didalamnya ada ada deh dan terdapat kata WAITING.